yth. Pemimpin Negeriku

Pak Presidenku, dari jauh kuucapkan selamat, kujabat tangamu penuh hormat dan bangga

Allah kembali memberi amanah besar di pundakmu, memberikanmu kesempatan lagi untuk mewujudkan mimpi-mimpimu

Presidenku tercinta, bergetarkah hatimu saat kau ucapkan sumpah itu?

Sumpah yang disaksikan Allah, dicatat malaikat dan dibicarakan seluruh rakyat

yang akan dipertanggung jawabkan dunia hingga akhirat

Bapakku pemimpin negeri

bagaimana dengan para pejabat lainnya yang kau pilih? kuharap, senyum yang senantiasa mereka sungging adalah senyum kesiapan menerima kepercayaanmu

ikhlas, membaktikan diri untuk negeri

Kami, rakyatmu hanya bisa berdoa dari bilik harapan yang mungkin tak kau dengar

agar negeri ini penuh berkah dan rasa tentram, penuh angin kedamaian dan jauh dari kekufuran

kami tak perlu petinggi yang memiliki harta setinggi gunung, ataupun kepandaian setinggi langit

tapi, kami perlu mereka-mereka yang takut kepada Tuhan, illahi Rabbi

yang mengerti artinya janji, beratnya memikul amanah, dan menundukkan pandangan atas segala kecurangan

Ini memang tak mudah, dan takkan secepat mentari tenggelam hingga bersinar esok pagi

Jangan berputus asa ya pak, Allah akan selalu mendengar semua pintamu. Semua kerja keras dan pengabdianmu, pasti dilihat dan dicatat oleh-Nya. Takkan pernah luput barang satu butir pasir, ataupun setengah hembusan nafas

Kepercayaan kami adalah doa

Jagalah agar doa-doa ini senantiasa teriring untukmu

dan Al Qur’an selalu ada untuk membantu tegaknya pemerintahanmu

Rasulullah dan para sahabat sebagai tauladanmu

sebagai pedoman kemana langkah harus kau ayunkan dan kaki kau pijakkan

Terima kasih untuk senyum yang tak pernah habis termakan problema

Mencoba merangkai doa meski diri ini bodoh tentang negeri dan pemerintahan

tapi, akupun tak terlalu buta. aku bukanlah koalisi ataupun oposisinya. tapi hanya berusaha mengingatkan dan mendukung segala mufakat negara karena aku bagian di dalamnya.

Bukankah salah 1 kaum yang akan mendapat naungan di akhir nanti, saat tiada yang dapat menaungi adalah pemimpin yang adil?

al insaanu makaan al khata wa al nisyaan

al birru manittaqo

di post juga di blogku yang ini

 

Sajak tak bermakna

lama tak pernah kutulis, sajak tentang cinta…

saat sang penyair makin tersiksa dengan rasa ini

saat senja makin menyingkir memberi kegelapan

dan saat semua bersenandung dan berbangga akan kedatangannya

sungguh lama tak pernah kutulis tentang cinta…

hingga suara-suara malam hadir memelukku

kulihat sosok indah itu hanya dalam bayangan

tak tergapai dalam mimpi sekalipun

dan benar-benar lama tak kulukis gambaran cinta

hingga sketsa tak terkonsep terus membayang

hitam putih sosoknya makin kabur dan menghilang

dan dalam diam, ku makin bimbang, mengapa kau harus datang?

semakin lama tak kubicarakan tentang cinta

aku akan makin membisu menahan rindu

merasakan datang pergimu yang makin rancu

dan semua ungkapanmu yang ambigu

dan cukup disini kutulis tentang cinta

karna lisan tak mampu berkata dan menuliskannya dalam prosa

dan sampai disini kutulis semua tentang cinta

semoga hadirmu makin jelas dalam bias pelangi

yang terlukis jelas dan lengkap rinai warnanya

 

bukan untuk siapa dan untuk apa

cuma mencoba mengungkap suatu yang takbisa terungkap

kalimat biasa untuk sesuatu yang tak biasa

dan bila semua tak bermakna, akan tetap kubingkai dalam hati yang tak terbaca

 

7 Agenda Harian Rasulullah Saw

Assalamu’alaikum sahabatku, semoga puasanya makin indah dibanding Ramadhan tahun lalu. amin.

Bulan Ramadhan, biasanya makin banyak kegiatan yang menanti. Banyak undangan buka puasa bersama, bedah buku maupun kajian-kajian islam disamping rutinitas harian biasanya. Tapi Insya Allah semua kegiatan positif  tambahan itu akan makin menambah makna puasa dan Insya Allah akan semakin berkah.

Tarawih dan tadarus al Qur’an mungkin rutinitas harian hanya di bulan Ramadhan. Padahal, bulan Ramadhan semestinya menjadi bulan tarbiyah bagi kita untuk menjalani bulan-bulan berikutnya seusai Ramadhan, sehingga saat kita bertemu Ramadhan lagi (insya Allah, amin) kita sudah siap mental dan bekal. Masak kita cuma rajin tilawah Qur’an waktu Ramadhan aja? aktif  sholat berjama’ah isya’ di masjid cuma waktu tarawih aja? atau puasa cuma waktu bulan Ramadhan aja? klo kebanyakan jawabannya iya, Coba deh cek rutinitas harian Rasulullah tercinta :

Pertama, tak pernah meninggalkan sholat tahajjud. Kekuatan dakwah Rasulullah dan para sahabat adalah tahajjud dan jihad, sampai ada ungkapan “Kami di waktu malam menjadi pendeta dan di waktu siang kami menjadi tentara.”  Tau nggak saat kita tidur, setan mengikat tengkuk kepala kita dengan 3 ikatan. Yang pertama akan terbuka saat kita berdzikir menyebut nama Allah, yang kedua akan terbuka saat kita berwudhu dan yang ketiga akan terbuka saat kita mengerjakan shalat. Jika tidak, maka kita akan berjiwa buruk disertai rasa malas (HR. Bukhari)

Kedua, membaca Al Qur’an dengan maknanya. Qalam Allah yang begitu sempurna dan indah. Warisan dan mukjizat dari Rasulullah Saw. Dan banyak sekali ayat-ayat dan hadis yang mengharuskan kita membaca dan mempelajarinya demi keselamatan dan kebahagiaan dunia wa akhirat. Jangan lupa  ketika akan membacanya, berwudhu dulu. Dan sebaiknya diusahakan membacanya dengan tartil sambil mempelajari maknanya. Masak sih di depan TV bisa berjam-jam, tapi membaca Qur’an 10 menit aja udah ngantuk,hehehehe… ayo semangat!

Ketiga, Sholat subuh berjama’ah di masjid atau musholla. Jangankan jama’ah di masjid, berangkat sekolah aja sering telat karena bangun kesiangan. Ya Allah, ayam aja rajin bangun subuh tapi mengapa kita tidak? kita malah enjoy aja jadi bulan-bulanan syaitan. Astaghfirullah…

Keempat, tegakkan sholat Dhuha. Sesuai dengan hadits Rasululloh SAW,“Di dalam surga terdapat pintu yang bernama bab ad-dhuha ( pintu dhuha ) dan pada hari kiamat nanti ada orang yang memanggil,” Dimana orang yang senantiasa mengerjakan sholat dhuha ? Ini pintu kamu, masuklah dengan kasih sayang Allah.” ( H.R. at-Tabrani).

Kelima, membiasakan bersedekah. Kalau rajin ngikutin tausyiah Ust. Yusuf Mansyur pasti pada hafal keajaiban bersedekah. Sedekah yang kita berikan adalah investasi di dunia dan akhirat. sedekah pula yang akan menerangi kubur kita , menjadi penolong di padang Mahsyar, di shiratal mustaqim, serta mengantarkan kita untuk bersanding dengan Rasulullah Saw di surga Firdaus. Bukankah, harta yang paling abadi adalah apa-apa yang kita sedekahkan?

Keenam, senantiasa menjaga wudhu. Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang selalu dalam keadaan berwudhu maka Allah senantiasa memberikan solusi terhadap setiap masalah dan kesulitan yang dihadapinya.” Tak ada satu makhlukpun yang tau kapan maut akan menjemput. Namun, sungguh bahagianya bila kita menghadap Illahi dalam keadaan bersih dan suci.

Ketujuh, banyak istighfar. coba hitung, berapa kali dalam sehari lisan kita melantunkan istighfar? Mungkin hanya seusai sholat saja? Rasulullah Saw, insan yang paling mulia, dalam sehari semalam beristighfar 70 hingga 100 kali lho…

Subhanallah… Rasulullah Saw, sungguh tauladan bagi seluruh umat manusia, sungguh beliaulah sebaik-baiknya umat. Rasulullah Saw. adalah insan mulia yang telah mendapat jaminan surga dari Allah azza wajalla, tapi beliau sanggup melaksanakan rutinitas semua itu. Kita, yang belum tentu bisa menghirup secuil wangi surga masih bermalas-malasan untuk beribadah. Semoga di bulan penuh Rahmah ini, benar-benar menjadi bulan pembelajaran bagi kita. Amin.

11 Ramadhan 1430H

saat semangat membacaku menguncup dan kelanjutan tugas akhir belum berujung

dan aroma-aroma kerinduan kembali menjelma…

 

-Nothing-

aku tak pernah menyalahkan takdir membawaku kesini

dan aku pun tak pernah menyesali berada di tanah ini

lebih dari 5 Ramadhan kulewati, kenapa cinta ini tak kunjung bersemi?

 

Selayang pandang

Assalamu’alaikum… lama tak menulis, tiba-tiba Ramadhan udah tinggal menghitung jam. Marhaban ya ramadhan, selamat datang bulan yang mulia. Penuh rindu ku menyambutmu, semoga hati senantiasa fitri melaluimu. amin.

hmmm, dari beberapa pekan yang lalu melihat di stasiun TV, koran, shout out FB bahkan status YM ngomogin masalah teroris, bom trutama mas Noordin M. Top yang lagi Ngetop. Seru sih ngikutin acaranya, lumayan buat mengalihkan pandangan dari tayangan gak bermanfaat. Tapi disini gak mau mengupas tentang cara bikin bom, jihad ataupun taktik densus88 menyergap kang Boim alias Ibrahim.

Mengutip sedikit dari wawancara mantan anggota Jama’ah Islamiyah dan pembawa berita tentang para pelaku bom bunuh diri dan sekutunya. Diketahui, kebanyakan orang-orang yang paling mudah direkrut dan menjadi sasaran utama adalah para PEMUDA. Hmmm, kenapa ya? Katanya, karena pemuda itu belum punya tanggungan apa-apa (istri dan anak). Faktor selanjutnya, karena kebanyakan pemuda kurang mempunyai dasar pemahaman agama yang kuat. Mungkin karena kebanyakan pemuda sibuk dengan dunianya ya, dan sekali mendapatkan masalah mereka mendapatkan pencerahan yang salah kaprah. Diberi iming-iming jalan pintas menuju surga. Wallahu’alam…

Baca-baca lagi yuk kisah hidup Rasulullah SAW, bagaimana beliau berdakwah dan berjihad. semua melewati jalan damai, kalaupun harus berperang tidak melukai tumbuh-tumbuhan, anak-anak dan wanita. Mari pelajari makna “jihad” yang sesungguhnya, agar tindakan kita tidak sia-sia.  Tujuan kita dilahirkan sebagai khalifah(pemelihara) dan abdullah (hamba Allah), yang nantinya semua perbuatan akan diminta pertanggung jawaban.

Di tangan kitalah para pemuda,nasib agama dan bangsa ini ditentukan. Menggali ilmu sebanyak-banyaknya, dan mengaplikasikannya agar bermanfaat bagi semua orang. Biar kita gak cuma bisa menyalahkan dan menghujat para teroris tapi kita jg tau cara mengantisipasi agar tidak menjadi “pengantin” selanjutnya.

mencoba beropini untuk memancing ide demi percepatan penyelesaian tugas akhir. mohon maaf ya kalau ada kata-kata yang kurang tepat. maklum, baru belajar.

 

Putri Biru

siang-siang mencari pencerahan disini, perlu dibagikan buat temen-temen. karena menurutku, isinya sederhana tapi ngena di hati,semoga bermanfaat….

Kamu mau jadi sahabatku ketika ku berjanji, berjanji bahwa tidak akan ada lagi korban, janji bahwa suatu hari nanti aku akan berubah, janji bahwa aku akan menjadi pangeran yang lebih baik lagi. Kamu adalah putri pertama di kerajaan itu, putri dengan berbagai sifat yang unik. Kadang dewasa, kadang seperti anak-anak, tomboi dan gokil namun kamu penuh senyum. Sifat rendah hatimu menggambarkan bahwa kamu adalah seorang putri remaja yang mungkin nantinya akan menjadi seorang ibu yang akan mendidik dengan hati bagi anak-anaknya.

Seorang ibu yang mungkin akan menjadi awan yang teduh bagi anak-anaknya. Ketika peran ibu dapat dimainkan dengan baik maka sebuah keniscayaan bahwa sang suamipun akan merasa tenang dan tentram disampingnya. Ia akan menjadi istri yang mengerti bahwa suaminya tidaklah semulia Muhammad, tidaklah setakwa Ibrahim, pun tidak setabah Ayub, ataupun segagah Musa, apalagi setampan Yusuf. Ketika suami menjadi raja maka kamu nikmati anggur singgasananya. Ketika suami menjadi bisa maka kamulah penawar obatnya. Wahai Putri Biru, engkaulah dambaan setiap pangeran di seluruh penjuru negeri….

Perlahan namun pasti akhirnya perasaan itu hadir, ketika sang putri mencoba menerimaku. Ketika dia tidak melihat masalaluku, saat dia tahu resiko menjadi permaisuriku. Dianggap aneh, dikucilkan, dibuang, malu dan dianggap mengkhianati kerajaannya. Karena dia yakin suatu saat, aku akan berubah. Dan jika saat itu datang, dia mau aku menjemputnya untuk pergi ke surga abadi, saat dia berikan jawaban YA atas cintaku.

Ku tahu dia tidak mau menunggu dan ditunggu tapi dia ingin kudatang lebih dulu. Ketika kumerasa tidak pantas untuknya, merasa tidak yakin pada dirinya namun keyakinannya pada diriku membuatku bertahan. Keyakinan itu yang membuatku mempunyai seribu harapan tentang dirinya, harapan bahwa kami akan menjalani hari-hari kami dalam indahnya kebersamaan, dalam indahnya payung Illahi.

Putri Biru bukanlah gadis yang romantis karena mungkin dia hanya bisa memanggilku dengan panggilan yang kusuka, hanya bisa memahami apa yang kumau, hanya bisa bersyukur menemukanku, hanya bisa berharap bahwa aku benar-benar untuknya dan mungkin dia memang hanyalah seorang putri dan bukanlah bidadari. Tapi usahanya menjadi yang terbaik bagiku telah menjadikannya putri yang telah mengharu biru di hati ini, ketika dia rela menjadi Fatimah yang menumbuk sagu dengan tangannya sendiri, ketika dia rela menjadi khadijah yang menginfakkan semua hartanya dalam dakwah, ketika dia rela hidup apa adanya bersamaku nanti, ketika dia mencintai seseorang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna. Adakalanya putri tidak bijak, tidak dewasa, dan tidak mengerti.

Tapi apakah pangeran sepertiku bisa meluruskannya yang tercipta dari tulang rusuk yang bengkok? Sementara aku hanyalah seorang pengeran tanpa kerajaan, pangeran yang masih jauh dari kata baik apalagi soleh. Dalam banyak waktuku, hanya sebentar aku menyapa ”temanku” yang bertuliskan huruf Arab sementara untuk berbincang dengan ”temanku” yang banyak humor dan gambar, aku sampai lupa waktu. Saat suara adzan datang menyeru justru seruan yang lainnya yang kudengar dan kusambut. Benarkah pangeran ini pantas untuk putri biru?

Seorang wanita solihah yang selalu menutup auratnya, yang bicara dengan pria bukan muhrim tanpa menatap matanya, yang tidak mau berjalan bersisian dengan pria yang bukan muhrimnya. Ya Allah, apakah Engkau mengirimkan putri ini sebagai perantara datangnya hidayahMu untukku. Apakah Engkau mengirimkannya agar aku kembali menjadi pangeran yang baik lagi, seperti yang dulu lagi, yang taat dan patuh akan perintahMu.

Dan akhirnya setelah ”kebersamaan” yang sesaat ini…….

”Mas, jaga intensitas interaksi kita, jangan terlalu sering! Ibadahku jadi tidak khusuk, takut perbaikan diriku bukan karena Allah tapi karenamu, takut cinta itu bukan karena Allah. Kita seperti sedang ”pacaran” padahal kita tahu bahwa pacaran tidak diperbolehkan sebelum resmi menikah. Astaghfirullah…… Biarkan rasa itu tumbuh subur di tempat yang benar. Kita sudah punya bibitnya dan akan kita tanam di tempat dan waktu yang tepat. Aku tidak mau melupakanmu tapi kalau kamu mau aku diam, menahan perih karena rindu, pedih dan sakit karena tidak bisa menyapa ketika bertemu, terluka karena tidak bisa saling senyum Insya Allah aku kuat. Ibarat biji, aku harap cinta kita tidak mati tetapi sedang berdomansi, sedang menunggu waktu yang tepat untuk tumbuh subur di hati masing-masing.

Saat ini kita ibarat sedang mengulurkan tangan ingin saling bertukar benih tapi kita tersadar bahwa belum waktunya kita untuk menukarkannya. Aku takut biji ini membusuk di hati masing-masing bukan subur seperti yang kita harapkan. Aku meminta kita menahan, bersabar, berdoa, berikhtiar sekuat-kuatnya dan bertawakal sepasrah-pasrahnya. Aku lebih meminta barokah dari Allah untuk cinta kita. Aku tidak mau Allah tidak meridhoi ikatan suci kita nantinya karena permulaannya yang salah. Insya Allah aku akan berdoa untuk kita, berdoa agar kita diberi kesabaran, kekuatan, kepasrahan sebesar-besarnya olehNya. Semoga kita bisa menghadapi semua ini dengan ikhlas. Wahai pangeran yang telah melumpuhkan hatiku, ijinkan aku menutup surat ini dan biarkan waktu berbicara tentang takdir kita.

Mungkin nanti saat dimana mungkin kau telah menimang cucumu dan aku juga demikian, mungkin kita akan saling tersenyum bersama mengingat kisah kita yang tragis ini. Atau mungkin saat kita ditakdirkan untuk merajut jalan menuju keindahan sebagian dari iman, kita akan tersenyum bersama betapa akhirnya kita berbuka setelah menahan perih rindu yang begitu mengguncang. Wahai pangeran yang telah mengusik pikiranku, mintalah kepada Tuhan-mu, Tuhan-ku, dan Tuhan semua manusia, akhir yang terbaik terhadap kisah kita. Mintalah kepada-Nya agar iman yang tipis ini mampu bertahan, mintalah kepada-Nya agar tetap menempatkan malu ini pada tempatnya. Wahai engkau yang sekarang kucintai, semoga hal yang terjadi ini bukanlah sebuah DOSA”.

Setelah membaca surat itu, akhirnya aku sadar bahwa hubunganku selama ini dengan sang putri adalah sebuah kesalahan dan kekhilafan. Sungguh betapa sangat inginnya aku agar sang putri menungguku hingga aku siap dan datang menjemputnya. Betapa inginnya aku untuk mengetahui kabar sang putri tiap hari. Tapi sungguh ternyata ada yang lebih kami cintai dibandingkan cinta diantara kami. Dialah Allah, yang membawa kami ke jalan ini, menuntun, merangkul kami dengan cinta. Dialah Allah, tempat kita meminta dan berharap. Dialah Allah, yang telah memberi kami kehidupan dan yang akan mematikan kami kembali. Dialah yang berkuasa penuh atas hati, jiwa, dan pikiran kami yang tidak ada seorangpun yang dapat menyamaiNya apalagi melampaui kekuasaanNya.

Dan Allahpun telah mengingatkan kita dalam firmanNya, ”wanita-wanita yang keji adalah untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji adalah buat wanita-wanita yang keji (pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula)…….” (QS. An Nur : 26).

Mungkin apa yang terjadi antara aku dengan sang putri adalah kehendak Allah untuk memberikan pelajaran padaku tentang apa itu arti hidup dan cinta yang sebenarnya. Tapi sungguh aku ucapkan terima kasih sebesar-besarnya pada sang putri, kusampaikan penghormatan setinggi-tingginya padanya, paling tidak dia sedikit mengubah hidupku. Dan akupun hanya bisa senyum atas ”kebersamaan” kami selama ini, entah senyum bahagia, senyum beku, atau mungkin juga senyum yang sudah tidak berbentuk lagi.

Dan pangeran inipun hanya bisa mengajak dirinya dan kepada para pembaca, yang khususnya sedang menanti kehadiran ”Putri Biru” ataupun sedang menanti saat yang tepat untuk menjemput ”Putri Biru” agar selalu mempersiapkan diri, agar terus dan tak pernah berhenti memperbaiki dan membina diri karena sungguh Allahlah sebaik-baik pembuat janji dan sebaik-baik yang menepati janji.

Dan kita sebagai hambaNya yang lemah dan tak berdaya harus memiliki hati yang ikhlas dan tidak tertindas dalam menerima setiap keputusanNya agar langkah ini bisa terus berjalan meskipun kadang harus berhenti, agar mimpi-mimpi kita dapat segera terwujud, dan agar nada-nada yang telah hilang kembali tersenandungkan.

 

 

Doa dalam sepotong mimpi

Adzan subuh memanggil dengan lantang, membuatku harus beranjak ke kamar mandi. Hawa subuh yang menyengat kulit dan menusuk tulang, hampir membuatku enggan. Suasana desa yang sepi, suara ayam dan burung masih nyaring di sana sini, makin menambah semangat pagi.

Nenek sudah asyik di dapur ditemani kucing kesayangannya dari sebelum subuh. Selama ini, kucing inilah yang menemani kakek dan nenek selama anak cucunya pergi ke tanah seberang. Tubuhnya makin kurus, digerogoti penyakit kerinduan yang kuharap kehadiranku bisa jadi penawarnya.Kakek, yang tegap dan alhamdulillah sehat sudah persiapan berangkat ke sawah.

Belajar memasak dengan nenek, pergi ke sungai, berbaur dengan tetangga. Sambil menikmati sejuknya desa (baca: dingin), yang belum terbiasa untuk kulitku. Untuk mengisi waktu, main ke kota dulu ah,,, bertemu sahabat-sahabat, sambil cari ilmu dan peluang rezeki.

Kotaku,,, masih seperti dulu. sibuk diwaktu siang dan lengang saat beranjak malam. setelah isya’ semua gorden tertutup rapi dan penghuninya sudah berselimut ria sambil menonton televisi. Pelajaran sosialisasi, bisa kudapatkan penuh disini. Bagaimana nantinya aku harus hidup bermasyarakat dan bertetangga. Pelajaran yang tak pernah kudapatkan selama di tanah seberang. Ajaran keegoisan, sak karepedewe, sumpah serapah dalam keluarga, kekerasan dan ajaran bagaimana harus bertahan dalam keadaan itu. Kompleks….

Senyum-senyum dan pelukan yang kurindukan,,, teriakan keakraban yang membuatku sungguh sangat mencintai kotaku dan segala isinya. tutur bahasa halus yang membuatku nyaman… Saat itu, tetangga-tetanggaku sedang berkumpul bermain voli di tanah yang tak begitu luas. hal kecil yang bisa menciptakan keharmonisan.

Hmmmm aroma masa kecil semakin menusuk ingatanku dan makin mengahnyutkanku ke masa lalu. dulu di tanah itu aku bermain dengan sohib-sohib kecilku yang kini telah beranjak dewasa. Beramai-ramai pulang pergi sekolah, walau kadang kita juga musuhan hanya karna hal sepele. Kini, mereka yang slalu memelukku saat dadaku sesak dan akupun begitu. masa yang indah…

Sebelum maghrib, aku harus pulang. aku tak mau kakek nenek cemas, karena jarak yang lumayan jauh, area yang lumayan sepi, keadaan jalan yang teksturnya gak begitu bagus dan cuaca yang makin dingin. Sesuai dugaanku, kakek sudah menunggu di teras, ditemani kucing yang asyik dengan santapan petangnya.

Dan malam makin larut, desa makin senyap. Aku yang lelah, terbuai alunan mimpi dan terlelap..

Ku hanya ingin, setiap saat ku buka mata, hawa subuh itu yang kucium… semoga.

Ya Rabb, wujudkan mimpiku

 

Merindukanmu,,,

Tiangku berdiri kokoh dengan kubah yang megah. Lantai yang mengkilat dan mimbar yang penuh ukiran cantik. Tiap 5 waktunya, jama’ah tak pernah sepi. Tiap adzan berkumandang, saf-saf rapi menghiasiku, tertunduk yakin untuk menghadap Illahi Rabbi.

Tapi, kenapa setiap harinya hanya wajah-wajah ini yang mendatangiku? wajah-wajah yang mulai renta, langkah-langkah yang mulai berat dan goyah, suara imam yang mulai serak? tak adakah yang menggantikannya?

Dimana, wajah segar itu? langkah tegap dan suara yang lantang serta merdu mengumandangkan adzan dan ayat-ayat Qur’an??!! Kurindukan kalian… tak terbersitkah dalam hati kalian untuk merawatku, meramaikan dengan tilawah dan dzikir? Terakhir, aku menemukan kalian saat Ramadhan disini. Haruskah kumenahan kerinduan ini, hingga ramadhan tiba? aku takut, Allah tak memberi umur pada kalian.

Mungkin bagi kalian, aku bukan sesuatu yang penting untuk dikunjungi. Aku tak bisa menumbuhkan rasa cinta pada hati dan jiwa. Sedih, sangat sedih melihat kalian tak sedikitpun melirikku saat lewat dihadapanku. sedih, saat kalian bersikap semena-mena padaku. Berkata-kata kotor, merokok dan memperlakukanku tak sepantasnya. Allah sangat memuliakanku, tapi kenapa kalian tidak? justru kalian makin menjauhiku dan mendekati semua yang Allah murkai,,,,

Haruskah kalian menunggu renta untuk menghampiriku?

Atau kalian lupa dengan sabda Rasulullah SAW, bahwa nantinya kalian akan mendapat naungan dari Allah SWT disaat tak ada satupun makhluk yang memberi naungan di akhirat bila kalian memakmurkanku dan menambatkan hati kalian padaku…

Aku tak bisa berbuat banyak, selain memandang kalian dalam kebisuan dan memohon Allah SWT agar menggerakkan hati kalian untuk mencintaiku.

Rintihan sebuah masjid yang tak hentinya menanti langkah-langkah para pemuda untuk mencintainya….

 

 

Meremehkan Sholat

Fathimah a.s. berkata: Aku pernah bertanya kepada ayahku berkenaan dengan orang yang meremehkan shalat, baik laki-laki maupun wanita. Ia bersabda: “Barang siapa yang meremehkan shalat, baik laki-laki maupun wanita, Allah akan menimpakan atasnya lima belas macam bala:
Allah akan menghilangkan berkah dari umurnya.
Allah akan menghilangkan berkah dari rezekinya.
Allah akan memusnahkan tanda-tanda orang saleh dari wajahnya.
Setiap amalan yang diamalkannya tidak akan diberi pahala.
Doanya tidak akan naik ke langit (baca : tidak dikabulkan).
Doa orang-orang saleh tidak akan meliputinya.
Ia akan meninggal dunia terhina.
Ia akan meninggal dunia kelaparan.
Ia akan meninggal dunia kehausan. Seandainya ia minum seluruh air sungai yang berada di dunia ini, niscaya dahaganya tidak akan sirna.
Allah akan mengutus malaikat yang siap menakut-nakutinya di dalam kubur.
Kuburannya akan terasa sempit dan hanya kegelapan yang akan menyelimutinya.
Allah akan mengutus malaikat yang akan menyeretnya dalam keadaan tengkurap dengan disaksikan oleh para makhluk (yang lain).
Ia akan dihisab dengan hisab yang berat.
Allah tidak akan sudi melihat wajahnya (baca : berpaling darinya), dan
Allah tidak akan menyucikannya, dan baginya siksaan yang pedih”.

 

Keputusanku, Jalanku, Do’aku

Keputusan itu telah dijatuhkan, dan waktupun terus berjalan. Tak boleh ada sesal ataupun kecewa.

Bukan maksudku untuk tak membalas kasih sayang dan kebaikan kalian. Tanpa kalian harus tau apa penyebabnya.

Bukan maksud pula untuk mengecewakan kalian, yang sungguh menyayangiku.

Tapi, hargailah cita-cita dan keinginanku………..

Bukan berarti aku tak menghargai harapan yang kalian pupuk

Aku hanya ingin menjadi diriku sendiri, yang bisa memetik impianku.

Janganlah tanam penyesalan itu dalam hati kalian, hingga tumbuh subur dalam sukmaku.

Kembangkanlah biji-biji do’a dalam jalanku, karna tanpa kalian aku takkan menjadi diriku.

Ataukah harus kubayar rasa kecewa itu dengan kebahagiaanku?

Sungguh, aku tak sanggup dan tak ikhlas. Terlalu berat untukku…

Rabbi Illahi,,, ampuni aku…

gugurkanlah rasa kecewa itu dalam dada mereka, gantikan dengan Rasa pengertian dan keikhlasan.

Gantikanlah rasa itu dengan berkah-Mu padaku,,

terangi jalanku, dan wujudkan pengharapanku,,,

Agar mereka tau, turut mendoakanku dan menambahkan berkah-Mu untukku

 

Ya Rahman, Ya Rohim,,,

Tiada kuasaku untuk merubah apa yang telah Kau tentukan

Ku pinta, ridhai pilihanku ini..

 

bapak&ibu, dengan cara apapun aku akan berusaha membahagiakan kalian

walau tak harus menjadi orang yang bertahta

aku bahagia hidup sederhana bersama kalian di tanah perantauan

karena kalian telah memberikan arti “berhasil” yang sebenarnya,padaku

untuk “kalian” yang kusayangi dan telah kusakiti

tiada kata yg bisa kupersembahkan selain maaf

semoga Allah menggganti kecewa itu dengan Rahmat tiada batas

izinkan aku menikmati masa-masa sulitku ini dengan iringan do’a kalian

aku tau kalian menyayangiku,begitupun aku

Insya Allah, aku akan bisa berhasil melewati jalan yang kupilih

Kutulis saat derai air mataku tertumpah di sela-sela peningnya masalah yang tak kunjung berakhir ,saat kesabaran makin di uji dan bermunajat tiada henti.